Tuesday, September 29, 2015

CSI Ala Polda Metro Jaya



Para Pembaca mungkin sudah pernah menonton salah satu serial TV yang popular dari Amerika Serikat berjudul CSI: Crime Scene Investigation. Mudahnya, serial tersebut menunjukkan kecanggihan teknologi forensik dalam pengungkapan sebuah kasus pidana, umumya pembunuhan. Pada serial tersebut diungkapkan kecanggihan para penegak hukum di beberapa kota Amerika Serikat dalam mengungkapkan kasus pidana melalui petunjuk yang terkesan minim seperti bercak darah, jejak sepatu, dan lainnya. Kehebatan mereka di serial tersebut terlihat ketika mereka menggunakan alat yang canggih dan akhirnya mengungkapkan kasus pidana. Bahasa yang sering mereka gunakan kira-kira ‘to put the suspect in the crime scene’ atau mudahnya membuktikan bahwa si tersangka memang ada di tempat kejadian dan membuktikan tindakannya.

Mungkin ada yang bertanya-tanya apakah Polisi di Indonesia mampu melakukan hal yang sama, jawabannya tentu saja Polisi Indonesia mampu. Dalam kasus ini, Polda Metro Jaya mampu melakukannya.


Kasus pembunuhan seorang petugas parkir di Mal Senayan City yang diungkap oleh Polda Metro Jaya menunjukkan kemampuan kami dalam menggunakan teknologi forensik dalam mengungkap sebuah kasus pidana. Kasus ini berawal dari ditemukannya jenazah AS yang merupakan petugas parkir di parkiran basement B1 Mal Senayan City, Senayan, Jakarta Pusat pada hari Rabu 23 September 2015. Dari jenazah AS diketahui bahwa dirinya tewas setelah mengalami luka tusukan di punggungnya dan terdapat juga luka robek di bagian kepala.

Sumber gambar: Kompas.com/Tangguh SR


Dari penelusuran yang kami lakukan pada akhirnya kami mampu menemukan tersangka AA sebagai pelaku pembunuhan. Tersangka AA menjelaskan pada kami dalam prarekonstruksi pembunuhan ini bagaimana ia melaksanakan tindakannya tersebut. Ia merencanakan aksi ini berdasarkan pengalamannya dahulu sebagai karyawan di Mal yang sama dengan korban, bahkan pada posisi yang juga sama (petugas parkir). Tersangka merupakan mantan karyawan pada Mal tersebut dan dipecat karena  sering membolos dan kedapatan mencuri uang parkir. Karena hal ini tersangka mengerti dengan baik kondisi Mal tersebut ketika akan menjalankan aksinya.

Berdasarkan pengetahuannya tersebut, tersangka memasuki Mal melalui jalur yang tidak mudah dicurigai dan waktu tertentu dimana pencahayaan Mal dalam kondisi redup. Dengan dalih menukar uang tersangka AA mendekati korban dan kemudian mengancam dengan mengalungkan pisau pada leher korban AS. Pada kondisi ini AS melawan, perlawanan ini mengakibatkan luka di bagian kepala AS dan punggung korban ditusuk oleh tersangka AA. Dalam keadaan tertusuk korban sempat mencoba berlari walaupun akhirnya roboh dan tewas.

AA mencoba mengambil uang yang ada di laci gardu parkir dan kemudian menghampiri korban dan mengambil uang serta telepon genggam milik  korban dari kantongnya serta pisau yang masih tertancap di punggung AS.

Runutan peristiwa tersebut kami dapatkan setelah mendapatkan beberapa petunjuk dari TKP. Salah satu petunjuk kunci yang kami temukan adalah jejak sepatu yang tertinggal bersama dengan jejak darah korban AS. Jejak sepatu ini umum digunakan sebagai petunjuk untuk mengarahkan petugas kepolisian di berbagai negara kepada siapa saja yang berada di lokasi tersebut.

FBI misalnya, mereka menamakan petunjuk ini sebagai footwear impression evidence. Selain menunjukkan siapa yang pernah ada di lokasi, tentu saja petunjuk ini dapat menunjukkan siapa pelaku dari pembunuhan ini. Berdasarkan kesamaan alur sepatu, ukuran sepatu, merek, dan berbagai faktor lainnya kami dapat menempatkan si pemilik sepatu tersebut pada lokasi kejadian.


Contoh jejak sepatu. Sumber gambar: Michael B Smith, The Forensic Analysis of Footwear Evidence

Pada kasus ini, kami berhasil mencocokkan bentuk jejak sepatu AA dengan jejak sepatu di lokasi pembunuhan, dan keduanya identik. Selain itu, jejak sepatu tersangka AA tercetak pada darah korban, dengan demikian sisa darah pada sepatu AA dapat memperkuat bukti bahwa AA berada di lokasi pada saat pembunuhan. Jejak darah di sepatu AA pun kami periksa, darah tersebut terbukti milik korban AS. Fakta ini lebih memperkuat fakta bahwa AA memang berada di lokasi saat pembunuhan terjadi. 

Tidak hanya pada sepatu, kami menemukan juga jejak darah pada helm dan celana pelaku. Hasilnya sama dengan pemeriksaan ilmiah yang kami dapatkan dari sepatu tersangka AA. Kedua petunjuk ini menjadi petunjuk penting kami dalam menemukan pelaku kasus ini.

Setelah tersangka tertangkap. Dapat dilihat pada foto ini helm, sepatu, dan beberapa benda lain sebagai barang bukti yang kami dapatkan dari tersangka

Metode forensik footwear impression evidence juga metode analisis darah yang kami gunakan merupakan aset dalam mengungkapkan kejahatan di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Kemampuan ini merupakan bukti bahwa Polri khususnya Polda Metro Jaya merupakan institusi penegakan hukum yang sangat mampu dalam mengungkapkan kasus-kasus kejahatan di wilayah hukum kami. Tidak hanya di serial TV dan praktek di luar negeri, kami pun mampu melakukannya.

Pengungkapan kasus ini sekaligus juga menjadi pengingat bahwa kami di Polda Metro Jaya memiliki kemampuan dalam menegakkan hukum dan keamanan di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Selain itu juga menjadi peringatan yang tegas bagi siapapun yang berpikiran untuk melakukan tindak pidana, bahwa kami mampu untuk menelusuri dan mengungkap tindak pidana dengan bekal kemampuan dan teknologi yang kami miliki.



17 comments:

  1. Mantap Pak Kombes Krishna!!!.....anda luar biasaaaa......keep writing stories pak!!!! inspiring!!!!

    ReplyDelete
  2. Two Thumbs Up Komandan....!!! KEEP WORKING...!!!!

    ReplyDelete
  3. Two Thumbs Up Komandan....!!! KEEP WORKING...!!!!

    ReplyDelete
  4. Saya lg suka main criminal case....tnyata d dunia nyata ada juga yah...hebriing euy...

    ReplyDelete
  5. Keren pak,maju terus polisi indonesia...sehat dan sukses untuk pak kombes Krishna & Team...

    ReplyDelete
  6. Profil Kombes Khrisna seperti halnya Irjen Tito sama2 sosok polisi ideal dan figur teladan perwira polisi yg lain

    ReplyDelete
  7. Profil Kombes Khrisna seperti halnya Irjen Tito sama2 sosok polisi ideal dan figur teladan perwira polisi yg lain

    ReplyDelete
  8. Keren pak. Smga selalu dilindungi Alloh.

    ReplyDelete
  9. Keren...
    Jangan lupa berdoa pak, demi menegakan kebaikan diatas kejahatan, bukan menghilangkan kejahatan yang sudah ditakdirkan...

    ReplyDelete
  10. Keren...
    Jangan lupa berdoa pak, demi menegakan kebaikan diatas kejahatan, bukan menghilangkan kejahatan yang sudah ditakdirkan...

    ReplyDelete
  11. Sherlock holmesnya indonesia nih..
    Pak kalau bisa ajarin saya dong.saya pingin jadi detektif pak..heheheheh

    ReplyDelete