Tuesday, November 27, 2012

The Bridge On The River Kwai





Waktu saya kecil, saya pernah menonton film “The Bridge on The River Kwai”.  Film itu merupakan adaptasi karya David Lean yang hebat dari buku karangan Pierre Boulle tentang tawanan perang ditengah rimba  Asia dalam perang dunia ke II dan penggambaran yang cemerlang mengenai kekuatan KONSISTENSI…!!!

Mungkin kita masih ingat, bahwa Alec Guinness memainkan peran sebagai seorang perwira Inggris, yang dibujuk oleh tentara Jepang untuk membangun sebuah jembatan di atas Sungai Kwai. Dia bertekad bahwa itu akan menjadi jembatan paling indah yang bisa dibangun olehnya bersama anak buahnya. (Boulle menulis buku tersebut berdasarkan kisah nyata, ketika tentara Jepang menyebrangi perbatasan masuk ke Negara Thailand yang netral untuk membangun jalur perbekalan yang dibuat oleh tenaga kerja tawanan perang).

Hal yang sangat mempesona bagi saya adalah bahwa David Lean membuat filmnya pada tahun 1957, kira-kira 15 tahun sesudah peristiwa tersebut terjadi. Dan hari ini setelah lebih dari 55 tahun film tersebut diedarkan, lokasi jembatan yang sesungguhnya masih menjadi daya tarik pariwisata utama di Thailand. Saya sangat beruntung sekali, pada tahun 1989, saat saya berumur 19 tahun, ketika saya cuti sebagai taruna mengunjungi orang tua saya di Bangkok Thailand berkesempatan mengunjungi jembatan tersebut dan menyaksikan sendiri betapa kokohnya jembatan tersebut. Bahkan lokasi dimana film tersebut dibuat, sejauh sekitar seribu mil dari Srilanka, menjadi tempat favorit yang harus dikunjungi oleh wisatawan mancanegara yang datang ke Srilanka.

Pertanyaannya; mengapa saya sangat terpesona? Setelah beberapa tahun kemudian, saya membaca buku tersebut dan menyaksikan film serta mendatangi lokasi jembatan tersebut, saya belajar sesuatu yang sangat besar tentang kekuatan paling besar bagi seorang pemimpin,,; kekuatan Konsistensi..

Dalam film itu digambarkan bagaimana sang kolonel Inggris tersebut menderita karena penyiksaan yang sangat berat. Awalnya dia menolak untu mengijinkan anak buahnya mengerjakan jembatan Jepang, yang dampaknya akan sangat vital bagi upaya pemenangan perang Jepang di kawasan Asia Tenggara. Namun pada akhirnya dia setuju dengan memberikan pembenaran pada dirinya sendiri; bahwa hal itu akan menjadi sebuah terapi yang sangat baik bagi anak buahnya.

Pasukan dibawah pimpinannya mengira bahwa sang kolonel sedang merencanakan sebuah strategi tipuan tertentu, dan merka mengira juga bahwa sang kolonel akan meminta mereka membuat sabotase dengan hasil kerja yang buruk pada jembatan tersebut. Dalam hal ini terlihat bahwa para anak buah dari kolonel itu sama sekali tidak memahami kebulatan tekad sang Kolonel Angkatan Darat Inggris tersebut.

Setelah melewatkan sepanjang hidup dengan mempertahankan kehormatan di negaranya, dalam resimennya, dalam pengabdiannya kepda Raja, dia menganggap sebagai hal yang tidak konsisten kalau tidak berupaya sebaik-baiknya untuk membangun jembatan tersebut. Dia menyadari penuh bahwa dampak terbangunnya jembatan itu akan dapat menguntungkan musuh (tentara Jepang), namun dia tetap mendesak anak buahnya untuk memperlihatkan kepada sang musuh si tentara Jepang sebagus apa jembatan buatan orang Inggris.

Dari gambaran cerita kisah nyata diatas, saya melihat sebuah ironi bagaimana seorang tawanan perang Inggris yang bekerja membangun sebuah jembatan yang akan membantu pertempuran musuh bebuyutannya. Dalam kisah tersebut juga digambarkan bagaimana ketika seorang tawanan lain yang berhasil melarikan diri dari kamp yang bernama William Holden. Dia adalah seorang militer Amerika yang tergabung dalam pasukan sekutu saat itu.

Ketika William kembali dari pelariannya dan berusaha meledakkan jembatan tersebut, apakah Kolonel Guinness memberikan persetujuan? Ternyata sama sekali tidak!! Dia melakukan upaya apapun sebisanya untuk mencegah Holden meledakkan jembatan ”miliknya”.

Inilah yang menakjubkan bagi saya. Siapakah pahlawan dalam kisah film tersebut? Orang Amerika yang mempertaruhkan nyawanya untuk menghancurkan jembatan tersebut? Atau orang Inggris, yang diperankan oleh Alec Guinness.. Bagi saya pahlawan dalam film tersebut adalah sang Kolonel Inggris tersebut. Mengapa? Karena saya mengagumi orang yang mempunyai perilaku konsisten. Kita membenci dan takut pada orang yang perbuatannya tidak ajeg. Bagi saya kekuatan konsistensi dalam perilaku merupakan daya yang sangat kuat, karena hal tersebut membentuk orang lain untuk mempercayai kita.

Mengapa saya begitu mengagumi karakter konsisten? Saya merasakan betul bahwa kebutuhan kita akan konsistensi akan bisa disamakan dengan kebutuhan kita yang paling mendasar yaitu kelestarian dan keamanan. Kalau dilingkungan kita terasa konsisten, maka kita merasa aman. Kalau menghadapi keadaan dan orang yang tidak konsisten maka kita merasa tidak aman. Kalau kita menduduki jabatan dengan prediksi waktu yang tidak jelas, apakah satu tahun, dua tahun, satu bulan, tiga bulan atau sewaktu-waktu akan dicopot tanpa kejelasan maka kita merasa tidak aman. Hal ini akan sangat berbeda kalau kita bekerja dalam tatara waktu yang jelas dan konsisten, misalnya selama dua tahun, maka kita akan merasa aman dan dapat mengembangkan kapasitas kemampuan kita untuk menggerakkan organisasi yang menjadi beban tanggung jawab kita.

Roger Dawson dalam sebuah bukunya yang pertama saya baca pada tahun 1996 yang lalu berjudul ”The Secrets of Power Persuasion” mengatakan; Bahwa orang bisa digerakkan kalau mereka berfikir kita bisa memberi mereka imbalan. Selain itu orang bisa juga digerakkan kalau mereka berfikir kita bisa memberikan hukuman. Namun kedua hal tersebut memiliki titik kulminnasi dimana imbalan dan hukuman tidak akan cukup lagi. Berikutnya maka orang lebih bisa digerakkan kalau mereka merasakan adanya ikatan dengan kita. Dalam kondisi lain, orang juga bisa digerakkan apabila situasi membatasi pilihan mereka ataupu jika mereka berfikir kita mempunyai kelebihan dari mereka. Namun lebih dari pada itu, menurut Dawson,, kekuatan konsistensi lah yang membuat orang benar-benar bisa digerakkan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Orang tua yang selalu membujuk anaknya dengan menawarkan hadiah, dengan cepat mendapatkan bahwa anak-anak belajar mengharapkan hadiah itu dan akan memberontak kalau dia tidak mendapatkannya. Pemerintah bisa saja menggaji kita tinggi, pada tahap-tahap awal hal itu akan menjadi motivasi yang sangat hebat. Kita akan melakukan apa saja untuk memastikan kesinambungan pemberian imbalan tersebut. Tapi tahun demi tahun nilai imbalan (baca gaji) tersebut merosot. Sebagai pemimpin bisa saja kita memotivasi anggota kita dengan ancaman akan menghukum mereka kalau melakukan kesalahan misalnya. Namun demikian, hal tersebut selalu menjadi bumerang kalau kita terus-terusan mengancam mereka. Kalau kita terus-terusan memberikan ancaman kepada mereka, entah bagaimana para anggota akan selalu menemukan cara untuk melepaskan diri dari tekanan, atau sekalian dia belajar hidup dalam tekanan tersebut.

Kekuatan konsistensi terbesar adalah kekuatan yang dimiliki oleh sang pencipta sebagaimana diuraikan dalam kitab-kitab suci. Hukuman dan janji Allah adalah pasti, dan kita yakin akan itu. Karena yakin, maka banyak dari kita yang sangat takut untuk berbuat dosa dan sangat ingin berbuat kebaikan, meskipun kita semua tidak pernah bertemu dengan Allah SWT.

Seandainya kita semua mempunyai satu rancangan norma yang konsisten sebagai pedoman kerja, maka kita akan banyak sekali membebaskan energi untuk hal-hal yang sangat penting. Misalnya ketika kita mengendari mobil ke kantor. Jarak dari rumah kita ke kantor hanya sejauh 10KM; apakah kita akan repot-repot memasang sabuk pengaman? Kalau rancangan norma kita mengatakan bahwa sebelum kendaraan bergerak saya sudah harus memasang sabuk pengaman, maka tidak perlu ada lagi energi terbuang untuk berfikir tentang hal tersebut (sudah otomatis pasang tanpa perlu ada pikiran lain).

Dalam perjalanan ke kantor kita lihat lampu lalu lintas berwarna kuning; aliran adrenalin yang cepat mengalir,, ada fikiran pilihan gas cepat atau rem yang terus berkelebatan dalam waktu singkat diotak kita.., padahal kalau kita sudah mempunyai rancangan norma konsisten bahwa lampu kuning berarti saya mengurangi kecepatan,, maka kita akan dengan otomatis tanpa energi besar dengan segera mengurangi kecepatan dan menghentikan kendaraan ketika merah. Begitulah seterusnya,, termasuk ketika kita bangun pagi,, apakah kita akan memegang HP kita mengecek missed call, sms, bbm masuk atau kita shalat subuh dulu??? Kalau rancangan norma kita mengatakan bahwa kita tidak akan menyentuh alat-alat itu sebelum kita menyelesaikan urusan dengan sang pencipta, maka kita dengan tanpa energi segera melangkah ke kamar mandi mengambil air wudhu dan berangkat ke masjid terdekat dengan tidak menghiraukan HP tersebut tergeletak di meja..

Hanya sebuah renungan di Hari Senin tanggal 26 November 2012 yang dingin...


3 comments:

  1. nuhun kris...
    entah knp sy masuk kesini, tp setelah sy baca, ulasannya "melengkapi" kepingan puzzle kehidupan sy...
    subhanallah *God works in mysterious ways
    semoga berkahNya selalu melipah utk kris dan keluarga...amin

    ReplyDelete
  2. Renungan yg penuh dgn inspiratif.. Like it pak krishna.. :)

    ReplyDelete