Wednesday, January 9, 2013

Kehidupan Polisi Muslim Amerika



Hari ini saya bertemu seorang anggota NYPD yang sedang berpatroli. Ini hanyalah sebuah pertemuan biasa di dekat penjual Hot Dog Jalanan di jalan 5 Avenue antara 47 dan 47 Street Manhattan New York. Pertemuan ini menjadi tidak biasa karena sang penjual adalah langganan saya seorang imigran Mesir dan polisi tersebut juga adalah seorang keturunan Maroko yang juga beragama Islam. Saya sudah terlalu biasa melihat polisi NYPD berpatroli jalan kaki, karena patroli jalan kaki adalah andalan kegiatan mereka dikota ini selain patroli sepeda motor, patroli bermobil, dan patroli berkuda.

Ketertarikan saya adalah ketika saya sedang memesan Hot Dog untuk makan siang, mendengar percakapan sang polisi NYPD dan sang penjual dalam bahasa Arab. Saya pernah bertugas selama setahun di daerah konflik Sudan yang semua penduduknya berbahasa Arab. Dari sana saya mempelajari beberapa percakapan ringan bahasa Arab sehingga saya juga sedikit memahami pembicaraan mereka. Sejenak daya ingin tahu saya menggoda untuk ikut menyapa sang polisi tersebut tidak dengan bahasa Inggris namun dengan menggunakan bahasa Arab juga.

"Habibie,, kheif,, khalak, tamam?' (saudaraku, apa kabar, baik sajakah..?), Demikian pembukaan percakapan saya.
Sang polisi NYPD menjawab saya dengan ramah. "Hai Habibie, tamam" (hai saudaraku, saya baik)..
Selanjutnya saya meneruskan dengan bahasa Inggris percakapan tersebut. "I heard you speaking Arabic with my brother the food seller" (Saya dengar anda berbicara bahasa arab dengan saudara saya penjual makanan ini).
Memang benar penjual makanan tersebut adalah langganan saya, dan kami selalu bertegur salam setiap kali saya melintas dekat dia.
Si Polisi NYPD menjawab "Yes I speak Arabic"
"Where are you from?" (saya bertanya darimana dia). Disini sangat biasa, ketika kita bertanya where are you from, berarti itu bertanya dari mana asal kita.
Polisi itu berkata bahwa orang tua dia adalah imigran dari Maroko dan dia berada di Amerika sejak kecil.
Saya bertanya lagi: "Are you moslem?" (apakah anda muslim). Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang sangat tidak biasa ditanyakan di Amerika ini. Namun dengan senyuman dia, rasanya saya nyaman saja bertanya.
Herannya lagi dia menjawab.. "Yes I am Moslem"..

Dengan jawaban tersebut, selanjutnya saya mulai menyapa lagi dia dengan salam sesama kaum muslim. "Assalam mualaikum brother I am Krishna from Indonesia, and I am Indonesian Police like you, now work for United Nations at that Building". Dan jawaban dia sungguh menyejukkan.. "Waalaikum salam brother, Allahu Akbar Indonesia Islaaaaam..." Ini sungguh pertama kali saya bertemu seorang Polisi NYPD yang beragama Islam, dan daya ingin tahu saya makin menjadi-jadi.. Banyak hal yang ingin saya tanyakan kepada dia berkaitan dengan kehidupan muslim Amerika, khususnya orang Islam yang bekerja untuk Kepolisian.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa ada kecurigaan dikalangan umat Islam di negara kita dan negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam tentang perlakuan diskriminasi negara barat terhadap umat muslim. Isi kepala saya sebenarnya tidak seperti itu. Saya biasa sekolah dan bekerja di beberapa negara barat, dan selama ini tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu. Disini, saya bisa melaksanakan Shalat 5 waktu dengan nyaman, dan mereka menghormati saya ketika saya tiba waktunya shalat mereka memberi kesempatan saya keluar dari ruang rapat. Begitu pula masalah agama adalah masalah yang tabu untuk dibicarakan dan diperdebatkan karena kita semua saling menghormati keyakinan masing-masing. Namun dalam kepala saya masih ada keraguan tentang kehidupan muslim di polisi Amerika, karena ada sebuah tulisan yang saya baca mengatakan bahwa sejak kejadian Pengeboman 9 September, pihak NYPD ditenggarai telah memata-matai beberapa masjid di Amerika khususnya di New York sini.

Pertanyaan itulah yang saya mulai perbincangkan dengan polisi NYPD itu. Saya selanjutnya mulai bertanya sebuah pertanyaan sederhana untuk membuat dia nyaman dengan perbincangan kami.
"I am Krishna anyway, Nice to see you.." (Saya Krishna, senang bertemu anda)
"I am Mouneer, How are you" (saya Mouneer, apa kabar)
I am a police officer just like you,
Saya mulai bertanya lebih dalam "Can I ask you something regarding your religion life in your office. I mean if you mind of course I wont ask it" (Bolehkah saya bertanya tentang kehidupan kehidupan beragama dikantormu, maksud saya bila anda tidak nyaman maka saya tidak akan melanjutkan pertanyaan."
"Of course no problem, I know what you meant. I think I never got problem as moslem in NYPD. We just like other police officer, as far as I work well they will respect me. They respect me when I pray, even during ramadhan they respect me while I am fasting" (tentu saja tidak masalah. Saya tahu maksud anda. Selama saya bertugas disini, saya tidak pernah mendapatkan perlakuan yang berbeda sebagai umat Islam. Mereka tetap menghormati saya ketika saya shalat, mereka juga menghormati saya ketika saya berpuasa selama bulan ramadhan).

Selanjutnya dia bercerita.. Kamu tahu gak, Kalau Obama itu Islam? Kamu tahu gak kenapa dia sampai dipilih dua kali disni? Karena dia satu-satunya presiden yang bisa mewakili kemajemukan bangsa ini. Bapaknya Obama itu dari Kenya dan beragama Islam, namun disini dia mungkin tidak bisa terlalu menunjukkan jatidirinya sebagai orang Islam. Bahkan kalau kami boleh memilih, mungkin dia bisa dipilih sampai 3x. Bandingkan dengan George Bush, setelah dia bukan sebagai Presiden, tidak ada lagi orang Amerika yang menghormati dia, karena dia telah membunuhi orang tak berdosa di Irak dan Afghanistan tanpa alasan.

Saya makin asyik dengan obrolan ini karena si Polisi NYPD itu cukup terbuka dengan saya. Selanjutnya saya mulai lagi dengan beberpa ilustrasi cerita..
"You know, since the nine eleventh incident, I read on some news that NYPD assigned it's intelligent to monitor mosques and the life of moslems community in New York, is that true?" (sejak kejadian 9 Septemeber, saya baca di beberapa media massa bahwa NYPD menugaskan beberapa anggota intel nya untuk memonitor masjid-masjid dan kehidupan komunitas Islam di New York, apakah itu betul?)
Moeneer langsung menjawab dengan santai,; "Actually as moslem, I tell you that is not true. You know media sometimes blow up it's opinion without enough supporting data" (Sebagai muslim, saya sampaikan bahwa hal itu tidak betul. Kamu tahulah bahwa media kadang memberitakan opini tanpa didukung data yang benar).

Berikutnya pembicaraan ini saya teruskan dalam bahasa Indonesia. Dia melanjutkan bahwa orang beragama apapun bebas di negeri Amerika. Karena negeri ini dibangun dari kemajemukan. Tidak ada satupun yang berhak mengklaim sebagai agama mayoritas dan penghargaan terhadap agama adalah hak paling asasi di negeri ini. Kamu mempunyai metode lain untuk mendeteksi terorisme tapi tidak dengan memasang intelijen di Masjid.

Apa yang disampaikan oleh polisi itu memang benar. Kehidupan dan kerukunan beragama di New York sini memang luar biasa. Dan itu adalah sama dengan apa yang saya alami disini. Bahkan orang tidak beragamapun disini dihargai, karena masalah agama adalah masalah asasi yang harus dijunjung tinggi.

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang ingin saya perbincangkan dengan dia, namun saya hanya mempunyai waktu sedikit siang itu karena harus kembali bekerja dan memimpin rapat di kantor, dan saya juga tahu dia cukup sibuk untuk melanjutkan patroli. Kami menyelesaikan pembicaraan siang itu dengan salam hangat dan saya meminta ijin dia untuk menuliskan hasil perbincangan tersebut di blog saya ini. Dia senang sekali dan meminta alamat blog saya, karena saya menjanjikan akan memasukkan foto dia dalam kisah saya hari ini..

Sejenak saya merenung dari sedikit perbincangan itu; Kalau di Amerika sini kehidupan umat minoritas seperti kami ini bisa dihormati, mengapa di negeri Indonesia yang mayoritas beragama Islam tidak mampu menjaga kerukunan beragama seperti mereka.

Islam adalah agama damai..











10 comments:

  1. Setuju bgt....disini terasa sekali dihargai dan dihormati....seperti sholat jumat, disini terbagi 2 sesi or 2 waktu, jadi kita yg sedang sibuk bisa atur waktunya, sementara di Indonesia cuma sekali saja, jd org semua terburu2 mungkin juga jd byk yg gak sholat. Sholat I'd juga dibagi hingga 4 sesi, dimana org2 tidak perlu berbondong2 menjalankannya. Banyak mesjid di Indonesia, tp belum pernah saya lihat ada utk yg org cacat dan org lanjut usia, disni semua dihargai utk menjalankan ibadahnya

    ReplyDelete
  2. A gree..salut pd anda,yg msh peduli dg pentingnya menjaga & mengusahakan sebuah keharmonisasian hidup dari keragaman,dan memposting nya di media,demi terciptanya perdamaian dari persatuan di dlm perbedaan...Bravo'n blessing...Love peace'n Unity..God bless Indonesia'n you (Elsye Nayoan-GMDM)

    ReplyDelete
  3. perbincangan yng sngat mencerahkan sekali pak, thanks for sharing

    ReplyDelete
  4. Senang rasanya membaca blog ini...

    ReplyDelete
  5. pak, kalau mau memndaftar sabagai anggota us police departement bagaimana ya? apa saja syaratnya? trims

    ReplyDelete
  6. Tidak sengaja masuk blog ini...
    eh...dapat ilmu baru.
    terima kasih pak.
    kalau lagi ke Bandung...
    sudi kiranya mampir ke Komunitas kami
    Madrasah Alam Burangrang, Situ Lembang, Bandung
    saya nyakin pemuda disini
    makin terbuka, cerdas dan religius.

    amin
    lukman 0857.9567.2537

    ReplyDelete
  7. Cerita yang bagus...menggambarkan kehidupan aktivitas muslim dsana, walaupun dengan perbincangan ringan dan rileks.

    Pak Krisna, menurut teman saya yang bekerja disana bahwa rasisme sangat kental ya?

    ReplyDelete
  8. assalamu alaikum....sukses selalu pak...tulisan bapak bagus-bagus dan sangat menginspirasi...mohon ijin untuk ikut belajar dari tulisan-tulisan bapa....nans bandung

    ReplyDelete