Saturday, January 26, 2013

Pertemuan Membahas Efisiensi Misi Damai PBB




Saya barus saja mengikuti pertemuan yang menggabungkan antara UNDPKO dan UNDP. Kedua badan besar PBB ini bergerak dalam bidang yang berbeda. Kalau UNDPKO bergerak dalam misi perdamaian dunia, sedangkan UNDP bergerak dalam upaya mengembangkan pembangunan sebuah bangsa. UNDPKO selalu dengan kegiatan Misi Damai yang saat ini terjadi di puluhan negara dengan keikut sertaan ratusan ribu Pasukan Baret Biru dari seluruh dunia (termasuk Polisi dan ribuan orang sipil lainnya). UNDPKO sudah menggerakkan puluhan misi sejak misi pertama di Congo dan terus berlangsung hingga saat ini. Sebaliknya UNDP mempunyai kantor di 103 negara (termasuk Indonesia) dan menggerakkan berbagai program pembangunan seperti yang mereka lakukan di Aceh dengan proyek Pasca Tsunami nya dan proyek-proyek lainnya.

Pada prinsipnya, pertemuan yang kami selenggarakan adalah bertujuan untuk mensinergikan kedua badan ini (UNDPKO dan UNDP) dalam rangka bisa melaksanakan misi perdamian PBB dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Sebagaimana saya jelaskan diatas, UNDPKO selama ini selalu tertatih-tatih dalam mengelola misi perdamian PBB mengingat kami harus selalu menggerakkan manusia dalam jumlah yang sangat besar namun dari tahun ketahun anggaran kami selalu menurun. Dalam pertemuan tersebut, selalin dihadiri dari para pejabat UNDPKO dan UNDP seluruh dunia, juga dihadiri pejabat-pejabat UNODC, perwakilan negara donor, perwakilan dari DPA (Departmen Political Affairs), dlsb. Jadi kira-kira bisa saya katakan bahwa ini adalah pertemua tingkat tinggi dari beberapa badan PBB yang intinya untuk meng-create sebuah satuan kerja baru yang bisa menjembatani antara UNDPKO dan UNDP dalam mengakselerasi misi perdamian PBB. Satuan Kerja baru ini dirancang bersama dari kantor kami dan PBB sudah setuju bahwa nanti kami dari SPDS (Strategic Policy Development Section di Police Division; Kantor dimana saya bekerja saat ini) akan di relokasi untuk duduk satu atap di dengan UNDP dalam satgas yang bernama GFP (Global Focal Point). GFP inilah nanti yang akan merancang berbagai misi perdamian PBB dengan menggunakan pendekatan yang lebih komprehensif sejak mulai awal sudah duduk bersama untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada di daerah konflik, merancang misi dan mencari anggarannya.


Baiklah saya tidak akan berpanjang lebar dengan cerita diatas yang mungkin tidak begitu memikat rekan-rekan sekalian. Saya saya ingin bagi dalam postingan ini terutama adalah berkaitan dengan bagaimana kami-kami disini merancang sebuah pertemuan dalam rangka membahas sebuah masalah yang krusial. Sebagaimana kita ketahui, kalau di Indonesia, Rapat selalu identik dengan duduk, dengar, catat dan bubar yang bersifat monologis dan tanya jawab hanyalah "bumbu penyedap saja" agar terlihat pertemuan tersebut sudah interaktif. Namun hal demikian tidak akan pernah terjadi di PBB. Mungkin bagi senior dan rekan-rekan yang sudah sering melaksanakan berbagai pertemuan dan konfrensi internasional bisa membayangkan dengan apa yang akan saya ceritatakan berikut ini:

Pertemuan ini diselenggarakan dengan model yang sangat interaktif dengan sistematika yang jelas dan urut-urutan arah yang menjurus pada masukan yang bisa ditindak lanjuti oleh badan baru tersebut dikemudian hari (Sebenernya kami mau sebut rapat, tapi dalam bahasa Inggris kamu menggunakan kata Retreat: yang berarti: rapat dengan diskusi dan workshop sekaligus). Jauh hari sebelum pertemuan dilaksanakan, panitia sudah mengirimkan email kepada para peserta pertemuan untuk menanyakan, beberapa hal yang kiranya bisa memberikan masukan agar pertemuan tersebut bisa terselenggara dengan baik. Pertemuan sengaja diselenggarakan jauh dari tempat kami-kami bertugas, agar konsentrasi pada pertemuan bisa penuh. Dalam pertemuan itu, walaupun dihadiri oleh hampir seratus orang, namun desain ruangan dibuat begitu interaktif dan kami dibagi dalam beberapa kelompok yang masing-masing meja merepresentasikan beberapa organisasi secara merata. Pejabat utama dari kedua badan itu ikut serta dalam pertemuan yang dilaksanakan dalam 2 hari full (bukan di pembukaan saja). Materi awal pertemuan memang diberikan oleh beberapa pejabat utama namun sifatnya mereka meminta masukan akan apa yang bisa kita perbuat dikemudian hari dalam rangka mengefektifkan dan mengefisienkan misi perdamian PBB dikaitkan dengan keberadaan GFP nantinya.


Setelah pemaparan materi, para pimpinan teras kembali duduk sebagai peserta dan mendegarkan pengantar paparan dari pihak lain termasuk paparan dari kami-kami. Setelah sesi paparan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi masing-masing kelompok mulai membahas tentang beberapa tema tertentu selama beberapa waktu dan kemudian mempaparkan hasil diskusi kami dihadapan para peserta lain. Kegiatan diskusi dan diskusi terus berlangsung dengan arah yang jelas dari satu tahapan ke tahapan lain hingga nantinya ada sebuah "platform" yang jelas keluar dari pertemuan tersebut menyangkut apa dari visi dan misi GFP, apa yang akan kami lakukan dalam 6 bulan hingga 1,5 tahun kedepan, bagaimana kami akan melakukaannya, dengan cara apa hal-hal tersebut dilakukan, bagaimana mekanisme nya, bagaimana kami mensosialisasikan ini di puluhan misi yang ada di seluruh dunia dan semua hal-hal lain yang akan ditindak lanjuti oleh Tim Perumus....

Singkat cerita, pertemua kami tersebut menghasilkan sebuah produk yang implementatif dan tidak lagi bersifat wacana, untuk dapat dioperasionalkan secara sistematis, dan ditindak lanjuti secara politis dalam Rapat besar di Sidang Umum PBB nanti...

Demikian sedikit cerita yang bisa saya sampaikan dalam Blog ini,. Semoga bermanfaat..

Salam hormat..

2 comments: