Sunday, January 6, 2013

Perang Melawan Premanisme Adalah Perang Kita Bersama





Chicago pada era 20an merupakan sebuah kota urban yang sangat kelam dan penuh dengan kejahatan. Hukum tidak bisa berjalan dengan baik, karena seluruh wilayah kota dikuasai oleh jaringan mafia yang menguasai setiap wilayah. Para mafia membagi-bagi wilayah kekuasaan mereka termasuk pembagian spesifikasi kegiatan ilegal mereka. Perdagangan manusia, narkoba, minuman keras, penyelundupan hingga pembagian kekuasaan jasa keamanan ilegal.

Salah satu tokoh terkenal pada saat itu adalah Alphonse Gabriel Capone alias Al Capone. Al Capone adalah seorang Gangster Amerika Serikat yang memimpin sindikat kriminal menguasai jalur penyelundupan dan menjual secara gelap minuman keras dan aktivitas ilegal lainnya selama Era Pelarangan tahun 1920-an dan 1930-an.

Setelah pemilihan walikota 1923, walikota Chicago terpilih, William Emmet Dever melakukan reformasi, pemerintah kota Chicago mulai melakukan tekanan terhadap gangster dan penjahat di kota Chicago. Hal ini membuat para gangster dan penjahat gerah. Untuk menaruh markas besarnya di luar kota yurisdiksi, organisasi Capone (Chicago Outfit) masuk dengan cara kekerasan ke Cicero, Illinois. Mereka bertarung dengan penjahat Cicero, Myles O’Donnell dan William “Klondike” O’Donnell untuk memperebutkan kekuasaan di pusat kota Cicero. Kemenangan ada di tangan Capone, dan itu merupakan kemenangan Capone yang paling luar biasa; pengambilalihan pemerintah kota Cicero pada tahun 1924. Perang tersebut mengakibatkan lebih dari 200 orang tewas.

Capone (lewat pengikutnya Murray The Hump), mendalangi pembunuhan yang paling terkenal dalam dunia gang abad ke-20, Pembantaian hari Valentine. Di Chicago, pada tanggal 14 Februari 1929, terjadi peristiwa penembakan tujuh anggota gangster mafia Bugs Moran secara kejam. Meskipun rincian dari pembunuhan disebutkan hanya tujuh korban yang ditemukan di sebuah garasi 2212 North Clark Street tapi diperkirakan sesungguhnya korban tewas lebih dari itu. Kejadian itu langsung dihubungkan dengan Capone dan para pengikutnya terutama Murray the Hump dan Jack “Machine Gun” McGurn tapi tidak seorang pun pernah didakwa atas peristiwa tersebut.

Akhir dari sepak terjang Al Capone sendiri bukan karena pembunuhan, penganiayaan, perampokan, pencurian ataupun penyuapan, namun karena kasus penyelundupan. Al Capone ditangkap saat menyelundupkan minuman keras oleh agen FBI yang bernama Eliot Ness, yang sudah mengincar Al Capone sejak lama. Kasus itulah yang akhirnya menjadi pintu bagi para penegak hukum di AS untuk mengadilinya secara berlapis di meja hijau.
Al Capone akhirnya meninggal karena sakit setelah melewati hari-harinya selama 11 tahun di penjara dan rumah sakit.
Kisah besar kehidupan Capone kemudian diangkat dalam sebuah film berjudul “Untouchables” pada tahun 1987, dan diperankan oleh bintang-bintang terkenal seperti Kevin Kostner, Andi Garcia, Sean Connery dan di sutradarai oleh Brian De Palma, dimana pada kemudian hari menjadi film besar dan mendapatkan berbagai penghargaan pada berbagai ajang festival film.

Saya tertarik mengutip kisah diatas karena terusik dengan sebuah peristiwa besar namun mungkin dianggap kecil oleh orang yang tidak tau, yaitu peristiwa tertangkapnya John Key beberapa waktu yang lalu. Sebagian besar dari kita mungkin tidak tau siapa dia, tapi bagi siapapun polisi yang pernah dinas di Jakarta yang pernah merasakan kerasnya penugasan melawan kejahatan premanisme maka akan tau sepak terjangnya.

Tidak ada setitikpun wilayah ibukota yang tidak dikapling oleh kelompok-kelompok kekuatan tertentu. Apakah itu prostitusi, perdagangan narkoba, pengamanan tempat hiburan, pengamanan lahan parkir hingga jasa penagihan hutang. Kekuatan adalah hukum bagi mereka. Kekerasan adalah cara mereka menyelesaikan permasalahan dalam memperebutkan sumber daya. Hukum seolah tak berdaya karena mereka melindungi kejahatan mereka dalam berbagai lapis kekuasaan. Ada pelaku, ada yang menyuruh melakukan, ada yang melindungi pada cara-cara ilegal, cara legal, hingga cara-cara politis.

Berkaca pada kondisi Chicago diatas, dibutuhkan kekuatan besar, terencana, dan dukungan politik yang kuat untuk memberantas jaringan premanisme yang meresahkan. Hebatnya Jakarta dimasa kini, banyak organisasi-organisasi kekerasan tersebut berlindung dibalik nama-nama ormas yang berafiliasi pada hubungan kekerabatan tertentu namun sebenarnya bila ditelisik lebih dalam, cara kerja mereka adalah sama. Modusnya adalah mengumpulkan kekuatan massa sebanyak-banyaknya, menjadikan mereka sebagai kekuatan penekan, memproklamirkan diri secara terbuka untuk menunjukkan bahwa mereka besar, kekuasaan mereka bermuara pada ketokohan ketuanya, dan yang terpenting, menjadikan kekuatan mereka sebagai “bargaining position” dalam bertarung dengan kekuatan lain sehingga pada akhirnya mereka bisa mendapatkan keuntungan finansial.

Kesuksesan dan keberanian Polda Metro Jaya membekuk tersangka pada kasus pembunuhan Bos PT Sanex yang melibatkan salah seorang patron kelompok kekuatan sebagaimana penggambaran diatas, patut diacungi jempol. Hal ini merupakan pemicu bagi seluruh elemen masyarakat untuk menggelorakan kata lawan bagi premanisme dalam segala bidang.

Memang, pada akhirnya semua upaya tidak akan ringan,. Cibiran selalu datang, penggalangan opini dari pihak-pihak yang dirugikan akan selalu dilakukan, upaya perlawanan balik pasti akan terjadi, namun, bangsa ini sejatinya tidak boleh kalah oleh kejahatan, bangsa ini tidak boleh kalah oleh premanisme.
Kepada siapa lagi kita berharap..??

Seperti kisah seorang Eliot Ness seorang polisi pemberani yang awalnya tidak mendapat dukungan, maka perang terhadap orang-orang tidak tersentuh tersebut hanya bisa terjadi manakala kita semua, bersama-sama dari berbagai arah mau mendukung mereka para polisi lapangan untuk selalu melaksanakan tugasnya dengan penuh integritas.
Sebuah renungan dari New York..

1 comment: