Wednesday, October 10, 2012

Mudik Lebaran vs Thanksgiving Day; Pelajaran Buat Polisi


Salah satu hal yang selalu ditanyakan oleh keluaraga dan beberapa teman saat saya disini di bulan ramdhan ini adalah “Eh…Lebaran mudik gak?”.


Pertanyaannya sebenarnya biasa saja, dan selama saya jadi Polisi dinas di kewilayahan hampir tidak pernah merasakan nikmatnya mudik. Kecuali saat saya berdinas di AKPOL dan SECAPA, baru saya bisa merasakan mudik. Dan saya yakin hal yang sama juga dirasakan oleh rekan-rekan ditanah air sana. Nah kebetulan saya berdinas di Markas Besar PBB sini, Alhamdulillah sudah 2x saya tidak pulang ke Indonesia dan ini sama dengan pada saat saya berdinas di Sudan beberapa waktu yang lalu. Yang membedakan saat ini adalah istri dan anak2 saya menemani saya jauh diperantauan sini..

Berkaitan dengan pertanyaan mudik tersebut, hari ini saya tiba-tiba bertanya pada diri saya “Mudik artinya kan pulang kampung, di sadap dari bahasa mana yang kata mudik itu?” Pertanyaan gak penting yang seketika terbersit dalam pikran saya…

Sampai pada akhirnya pagi ini saya coba mencari tahu apa arti dan esensi kata mudik itu. Dan ternyata kata “mudik” itu berakar dari kata “udik”, dimana udik itu berarti kampung atau desa yang lawan katanya adalah kota.

Ini seperti istilah arab ‘ badui’ sebagai lawan dari kata hadhory. Sehingga dengan sederhana bisa diambil kesimpulan bahwa mudik, adalah kembali ke kampung halaman. Yah, arti yang semua orang sudah tahu. Dan ternyata struktur tatanan kata ‘mudik’ sebenarnya sangat tidak aneh dalam bahasa arab.

Dalam buku Kebudayaan Koentjaraningrat , Mentalitas dan Pembangunan menyebutkan bahwa suatu sistem nilai budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Dan ternyata dalam sistem kebudayaan tersebut masyarakat menganggap sebuah laku kebudayaan amat bernilai dalam hidupnya. Tak terkecuali mudik. Jadi mudik seolah menjadi suatu keniscayaan. Sehingga menjadi kebudayaan yang memiliki sistem nilai jiwa umat Islam.

Nah, saya juga dapat informasi mengenai beberapa arti kata “mudik”. Ini dia :
Mudik dari akar kata “ adhoo-a” yang berarti “ yang memberikan cahaya atau menerangi” Ini bisa dipahami dengan mudah, bahwa mereka para pemudik itu secara khusus memberikan ‘cahaya’ atau menerangi kampung-kampung halaman mereka. Mudik juga berasal dari akar kata “ Adhoo-‘a”, yang berarti “ yang menghilangkan”

Selanjutnya, mudik berasal dari bahasa arab yang berarti : orang yang menghilangkan. Hal ini juga akan mudah kita tangkap, bahwa mereka pemudik itu adalah orang-orang perantauan yang dipenuhi beban perasaan kerinduan, dan kesedihan karena jauh dari orangtua, keluarga atau kampung halamannya. Karenanya mereka melakukan aktifitas mudik , dalam rangka ‘menghilangkan’ semua kesedihan tersebut.

Mudik dari akar kata “ adzaa-qo” yang berarti “ yang merasakan atau mencicipi “ Orang yang mudik ke kampung halaman pastilah mereka yang ingin kembali ‘merasakan dan mencicipi’ suasana kampung tempat kelahiran.

Yah…itu informasi yang saya dapatkan mengenai esensi dari kata mudik, tapi dari manapun asalnya dan entah kapan mudik itu mulai dilakukan oleh masyarakat Indonesia, tetap saja yang namanya budaya akan tetap selalu ada dan tidak terpikir sedikitpun dalam pikiran saya dimana pada hari lebaran suatu saat nanti masyarakat Indonesia tidak berbondong-bondong untuk pulang kampung.

Kayanya gak mungkin yah..,dan gak seru juga.hehe..Yah,,,itulah serunya perayaan salah satu hari besar keagamaan, lagi-lagi setiap tahun Indonesia selalu diramaikan oleh kegiatan mudik tersebut. Oleh karena itu moment lebaran dijadikan moment untuk kembali ke kampung halamannya atau dengan kata lain mudik dimaknai sebagai proses kembalinya masyarakat urban, perantau ke kampung halaman.

Jika boleh saya simpulkan maka tradisi mudik menjelang perayaan Idul Fitri memang sudah menjadi kultur atau budaya negara kita sehingga saya memahaminya sebagai “mudik kultural”. Mudik sebagai fenomena kultural yang sangat unik adanya dan ternyata ini bukan satu-satunya di penjuru dunia (hebat yang negara kita^^).

Di Amerika sini, mudik juga terjadi untuk mengucapkan terima kasih dan rasa bersyukur di akhir musim panen. “Thanksgiving Day” atau Hari Pengucapan Syukur adalah hari libur resmi di Amerika Serikat yang jatuh pada kamiskeempat di bulan November. Di Amerika Serikat, hari libur Thanksgiving yang selalu jatuh pada hari Kamis menjadi hari pertama dari akhir pekan yang lamanya 4 hari. Bagi sebagian pegawai, menjadikan hari Thanksgivingdan hari Jumat sesudahnya dijadikan hari libur yang digaji. Selain dari itu, pegawai dengan sistem cuti yang bisa diambil sewaktu-waktu dapat meminta cuti di hari sesudah Thanksgiving.

Sehari sesudah Thanksgiving adalah hari Jumat, yang disebut Jumat Hitam yang menandai dimulainya musim belanja Natal. Sebagian besar toko sudah buka sejak pagi hari (biasanya sejak jam 05.00 pagi), dan menjual barang dengan sistem obral rugi/ cuci gudang agar pembeli mau datang. Disebut Jumat Hitam karena pada hari itu biasanya neraca pembukuan mereka berubah dari warna merah (merugi) menjadi hitam (untung). Toko-toko besar seperti toko-toko elektronik, supermal, dan semacamnya biasanya penuh dengan orang yang mengantri untuk membeli barang sejak Kamis sore.

Beberapa toko elektronik sudah terbentuk antrian sepanjang 100-200 orang untuk membeli barang yang diobral. Toko-toko biasanya buka pada hari Jumat pukul 5 pagi, namun antrian kadang-kadang sudah dimulai sejak hari Kamis pukul 5 sore. Supermal kadang-kadang buka pukul 12 tengah malamnya dan toko-toko di dalamnya menjual barang-barang obral. Pada hari istimewa ini tidak jarang pengunjung supermal pada tengah malam tersebut membeludak menjadi ratusan bahkan ribuan orang.

Thanksgiving di Amerika Utara juga merupakan kesempatan berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara. Hari Rabu sebelum hari Thanksgiving dan hari Minggu yang merupakan hari terakhir libur Thanksgiving merupakan hari-hari tersibuk bagi transportasi udara, kereta api, bus antarkota, dan jalan-jalan raya. 

Polisi di Amerika, pada perayaan hari Thanksgiving Day ini, tidak seperti di Indonesia. Mereka tidak mendirikan pos-pos pemantauan namu mereka lebih mengintensifkan pola patroli dan pam statis dengan kendaraan patroli. Yang menarik adalah kebanykan polisi malah melakukan razia dijalanan, dengan menghentikan secara acak beberapa kendaraan untuk melakukan test kadar alkohol. Perlu saya informasikan bahwa di sini, pelanggaran mengemudi dengan kadar alkohol yang tinggi sudah termasuk katagori pidana dan layak untuk dihukum dengan ancaman lebih dari 5 tahun...

Lalu apa korelasinya dengan Polri?
Kalau mengingat tingkat kenaikan berita negatif tentang Polri agak meninggi akhir2 ini, maka momen lebaran dan mudik ini adalah momennya polisi. Kita bisa menciptakan berita yang bisa menggugah rasa simpati dan empati masyarakat kepada Polri. Banyak cara tentunya bisa dilakukan. Semua dari rekan-rekan punya kita2 tersendiri, apalagi kebanyakan anggota milis ini adalah para manajer lapangan. selain itu, harus pula dipahami bahwa memang ternyata hari besar keagamaan (dalam hal ini khususnya Idul Fitri) menjadi sebuah peristiwa yang membuat berbagai konflik sedikit terlupakan. Tidak ada lagi sekat-sekat kesenjangan karena semua strata sosial dalam masyarakat berbaur. Ketika itu rakyat jelata saling bersalaman dengan pimpinannya, kaum fakir saling berkunjung dengan ulama panutannya. Semua bisa saling berkomunikasi baik dengan sesamanya maupun dengan warga kampung lainnya.

Oleh karena itu, mari kita jadikan momen mudik ini untuk mengembangkan suasana kekeluargaan diantara kita semua baik secara internal maupun eksternal..

Selamat Pam Lebaran Yang Ngepam
Selamat Mudik yang mudik..



No comments:

Post a Comment